Artikel By. Nelvita Febrina Hasan, M.Pd
Menggerakkan Logika, Membangun Pemahaman: Transformasi Pembelajaran Matematika melalui Deep Learning
(oleh: Nelvita Febrina Hasan, M.Pd)
PENDAHULUAN
Di era pendidikan abad ke-21, pembelajaran matematika idealnya tidak hanya bertujuan untuk mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi, tetapi juga perlu untuk menanamkan nilai-nilai karakter dan moral pada siswa. Sehingga, perlu adanya pendekatan pembelajaran yang tidak hanya menitikberatkan pada penguasaan konsep, tetapi juga dapat bersifat transformatif dalam hal karakter dan moral (Bistari, dkk, 2025). Salah satu pendekatan yang menjadi fokus dalam Kurikulum Merdeka adalam Pendekatan Deep Learning (pembelajaran mendalam). Pendekatan Deep Learning (pembelajaran mendalam) menekankan proses berpikir tingkat tinggi, adanya pengolahan makna, serta pembelajaran yang kontekstual. Dengan demikian, siswa dapat mengaitkan materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata serta menumbuhkan kesadaran diri sebagai pembelajar sepanjang hayat. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya diajarkan untuk menghafal rumus atau prosedur, tetapi juga dapat memahami makna dibalik konsep tersebut yang mampu menggerakkan logika dan membangun pemahaman yang bermakna dibalik konsep tersebut.
Apa itu Pendekatan Deep Learning?
Pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam) merupakan pendekatan yang menekankan pembelajaran yang mendalam, kontekstual, dan bermakna, sehingga mendorong kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan penyelesaian masalah (Kemendikdasmen, 2025). Pemanfaatan teknologi digital dapat digunakan dalam pendekatan ini untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar, sekaligus memanfaatkan praktik-praktik baik yang sudah ada (Kemendikdasmen, 2025). Dengan demikian, deep learning diharapkan siswa dapat memahami bahwa proses belajar menjadi suatu kebutuhan bagi dirinya di masa depan nanti (Mutawadia, dkk, 2023).
Deep Learning didefinisikan sebagai suatu pendekatan yang berfokus pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran mindful (berkesadaran), meaningful (bermakna), dan joyful (menggembirakan) melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu (Kemendikdasmen,2025). Dalam konteks matematika, deep learning menekankan pada:
1) Proses berpikir, bukan hanya hasil akhir.
2) Pemahaman kenapa suatu konsep bekerja, bukan sekedar bagaimana cara menggunakan rumus.
3) Kreativitas dalam menyelesaikan masalah, bukan hanya mengikuti prosedur yang baku.
Dengan demikian, melalui deep learning ini, siswa diajak untuk berpikir aktif menggunakan logikanya, bertanya, dan menyelidiki prinsip-prinsip matematika, sehingga mereka dapat membangun pemahaman yang lebih mendalam dan bermakna.
Strategi Menerapkan Deep Learning dalam Pembelajaran Matematika
Untuk mewujudkan Deep Learning dalam pembelajaran matematika, guru dapat menggunakan strategi dengan mengaitkan tiga prinsip deep learning (mindful, meaningful, dan joyful) sebagai berikut:
1. Mindful (Berkesadaran)
Melalui prinsip berkesadaran ini, diharapkan guru dapat membantu siswa untuk terlibat sepenuhnya secara mental dan fisik dalam proses pembelajaran. Contoh penerapan yang dapat diterapkan oleh guru, seperti:
• Ajak siswa untuk melepaskan pikiran tentang hal-hal lain di luar kelas dan fokus pada apa yang akan dipelajari hari itu.
• Ajukan pertanyaan reflektif yang mendorong siswa untuk benar-benar "hadir" dalam proses pembelajaran. Contoh aktivitas: Saat mempelajari konsep luas persegi, guru dapat menanyakan: "Apa yang kamu lihat ketika kamu melihat sebuah persegi?”
2. Meaningful (Bermakna)
Pembelajaran bermakna terjadi ketika siswa dapat mengaitkan informasi baru dengan pengetahuannya yang akhirnya membentuk pemahaman yang mendalam pada sebuah konsep. Bermakna dapat mengkaitkan pada konteks relevansi aktivitas pembelajaran dengan dunia nyata. Contoh penerapan yang dapat diterapkan oleh guru:
• Guru dapat menggunakan masalah sehari-hari sebagai titik awal pembelajaran.
Misalnya: untuk memperkenalkan konsep kubus, guru dapat menggunakan objek sehari-hari yang berbentuk kubus, seperti kotak tisu, dadu, Kemasan produk (kotak susu atau kotak kue), dll. Dengan menggunakan konteks nyata membuat matematika lebih relevan dan mudah dipahami siswa.
3. Joyful (Menggembirakan)
Menggembirakan berarti fokus pada emosi yang positif yang berhubungan dengan proses pembelajaran termasuk rasa ingin tahu, semangat, dan motivasi. Contoh penerapan yang dapat dilakukan:
• Setelah siswa siswa mengenal bentuk kubus, ajak siswa menyelidiki sifat-sifat kubus melalui aktivitas praktik. Guru dapat menggunakan pendekatan Penyelidikan (Inquiry-Based Learning) yang mana dapat mendorong siswa untuk bertanya, menyelidiki, dan menemukan sendiri konsep dari matematika itu sendiri. Kegiatan ini akan membentuk proses berpikir siswa dan dapat menggunakan logikanya untuk memahami materi. Guru juga dapat menyisipkan permainan interaktif agar lebih menarik dan tidak membosankan.
• Guru juga dapat memanfaatkan teknologi untuk membantu siswa memvisualisasikan konsep abstrak tentang kubus. Contoh aplikasi yang dapat digunakan adalah GeoGebra.
Adanya fitur 3D GeoGebra dapat digunakan memvisualisasikan kubus, mengubah ukuran sisi, dan melihat hubungan antara panjang rusuk, luas permukaan, dan volume.
Dengan visualisasi kubus menggunakan geogebra, siswa dapat membangun pemahaman konseptual yang lebih mendalam tentang bangun ruang.
KESIMPULAN
Di era pendidikan abad ke-21, pembelajaran matematika idealnya tidak hanya bertujuan untuk mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi, tetapi juga perlu untuk menanamkan nilai-nilai karakter dan moral pada siswa. Melalui pendekatan Deep Learning, kita bisa mengubah cara siswa memandang matematika sebagai bagian hidup yang relevan dan bermanfaat. Untuk itu, diperlukan inovasi dalam pendekatan pembelajaran, kesadaran akan pentingnya pemahaman konseptual, serta komitmen dari tenaga kependidikan dan pembuat kebijakan. Karena hanya dengan itulah, kita bisa benar-benar menggerakkan logika dan membangun pemahaman yang mendalam dalam pembelajaran matematika.
DAFTAR PUSTAKA
Bistari, dkk. (2025). Deep Learning Berbasis Pesan Moral dalam Pembelajaran Matematika bagi Guru MGMP Matematika Kubu Raya. International Journal of Public Devotion, 8(1), 59-70.
Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Pembelajaran Mendalam menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua. Pusat Kurikulum dan Pembelajaran.
Mutawadia, Jawil, & Farisi, S. (2023). Penerapan Metode Pembelajaran Mendalam Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Siswa. JIDER: Journal of Instructional and Development Researches, 3(6), 279-284.
Kontak Media:
Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Riau
Instagram : BGTK Provinsi Riau
Facebook : BGTK Provinsi Riau
Youtube : BGTK Provinsi Riau
Tiktok : BGTK Provinsi Riau
Website: https://bgpriau.kemdikbud.go.id/
#BGTKRiau #DitjenGTKPG
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah